SUKABUMI, INFODESAKU – Di usianya yang baru 11 tahun, Rio sudah merasakan pahitnya hidup yang tak seharusnya ditanggung seorang anak. Ia ditolak ayah kandungnya, tak diterima ibunya. Ia tidur dari satu masjid ke masjid lain, menggelar alas seadanya di lapangan, bahkan pernah berhari-hari di samping kantor kecamatan hanya untuk sekadar bertahan.
Rasa lapar yang menggerogoti membuatnya nekat membongkar kotak amal masjid. Bukan karena jahat, tetapi karena perutnya sudah tak lagi sanggup menahan perih. Saat itu, dunia seakan menutup mata dari tangis seorang bocah kecil bernama Rio.
Dinsos Menolak, Pejabat Pun Gagal Merangkul Kisah Rio sempat mengundang perhatian publik. Ia pernah ditangani Dinas Sosial, tetapi ironisnya ditolak hanya karena berkas kurang. Seolah nasib seorang anak kecil ditimbang-timbang dengan setumpuk kertas administrasi.
Tak berhenti di situ. Nama Rio bahkan sempat mencuat karena hendak diangkat anak oleh Wakil Bupati Sukabumi. Kabar itu begitu menggembirakan banyak pihak, namun akhirnya hanya menjadi cerita yang menguap. Rio kembali sendiri, kembali terlunta, kembali menahan lapar dan dingin malam.
Disambut Kyai Sederhana Pemilik Pesantren Mumu, yang beralamat di Kp. Cimuncang Rt 28/10 Ds Bojonggenteng Kec Bojonggenteng Kab Sukabumi.
Empat bulan kemudian, jawaban itu datang bukan dari pejabat, bukan dari dinas, melainkan dari sosok sederhana yang tulus: Ustadz Pitung Muda (Ustadz Nurdin Pranika), kyai muda yang dikenal sebagai penceramah di sejumlah TV swasta sekaligus pendiri Pesantren NUMU.
Di pesantren gratis yang beliau kelola, Rio kini menemukan rumah baru. Semua kebutuhan santri ditanggung penuh: makan, pakaian, kitab, bahkan biaya hidup sehari-hari. Tidak ada pungutan, tidak ada syarat. Hanya keikhlasan yang mengalir tanpa batas.
“Rio anak yang rajin dan kreatif. Ia tekun mengaji, cepat belajar, dan pandai membuat kerajinan sederhana seperti layangan dan anak panah. Saya percaya, ia anak cerdas yang punya masa depan,” demikian ungkapan yang disampaikan pengasuh pesantren kepada wartawan.
Luka yang Berubah Menjadi Doa Kini, Rio bukan lagi bocah kecil yang tidur sendirian di lantai masjid atau menggigil di lapangan. Senyumnya kembali muncul. Di pesantren, ia bermain dengan teman sebaya, belajar Al-Qur’an, dan tumbuh dalam dekapan kasih sayang seorang kyai yang merawatnya layaknya anak sendiri.
Luka yang dulu menoreh hatinya perlahan sembuh. Diganti doa-doa yang ia panjatkan, dan ayat suci yang ia baca setiap hari.
Rio, bocah yang pernah ditolak keluarga, ditolak dinas, bahkan gagal diangkat pejabat, kini menemukan rumah terbaik: sebuah pesantren sederhana, dengan seorang guru ikhlas yang berkata kepadanya,
“Di sini, kamu punya keluarga. Di sini, kamu tidak sendirian lagi.”jelasnya
Laporan : BA