SUKABUMI, INFODESAKU– Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Bayu Permana, Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) membuka sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pelestarian Pengetahuan Tradisional dalam Perlindungan Kawasan Sumber Air (Patanjala). Kegiatan perdana digelar di Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, di hadiri DLH Sukabumi, para tokoh, juga warga setempat, Rabu (11/2/2026).
Bayu menyebut Desa Sundawenang dipilih karena sudah lebih maju dalam pendataan kawasan lindung.
“Di Sundawenang sudah ada hasil pendataan titik-titik kawasan yang menurut Patanjala ditetapkan sebagai kawasan lindung. Ada 19 mata air, tebing curam, jalur mata air, daerah resapan, dan wilayah rawan bencana,” kata Bayu.
Dari hasil pendataan, sekitar 32 persen wilayah desa dinilai ideal menjadi kawasan lindung. Bayu berharap desa mampu menjaga fungsi lingkungan agar tetap stabil menghadapi musim hujan maupun kemarau.
“Kalau desa bisa menjaga keutuhan kawasan, kehidupan warga tetap terjaga. Ini langkah konkret mitigasi bencana,” ujarnya.
Bayu menjelaskan, implementasi Patanjala dilakukan melalui tiga tahap: Tatahar (persiapan), Naratas (pendataan lapangan), dan Netekken (analisa). Sosialisasi ini masuk tahap Tatahar, yaitu menyamakan persepsi dan pemahaman tentang perda.
“Setelah itu baru pendataan lapangan. Ada lima objek yang harus didata: jumlah mata air, daerah resapan, tebing curam, jalur mata air, dan sepadan sungai. Semua wajib jadi kawasan lindung,” jelasnya.
Tahap terakhir adalah analisa lapangan untuk menetapkan aturan dan larangan. Hasilnya bisa dituangkan dalam peraturan desa atau SK kepala desa. Jika seluruh desa melakukan hal serupa, maka kawasan lindung di Kabupaten Sukabumi akan bertambah.
“Sekarang kawasan lindung kita baru 12 persen. Itu sebabnya bencana sering terjadi. Dengan penetapan kawasan lindung di desa, otomatis akan memperluas kawasan lindung kabupaten,” kata Bayu.
Ia menambahkan, Desa Sundawenang dan Desa Jepang menjadi percontohan awal.
“Kita bikin permodelan dulu. Kalau terbukti efektif mengatasi perubahan iklim dan cuaca ekstrem, tinggal direplikasi ke desa lain,” pungkasnya.
Laporan : BA