TIDORE KEPULAUAN, INFODESAKU – Harapan akan kehidupan baru kini tenggelam bersama genangan air di kawasan transmigrasi Maidi, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Sulawesi Utara. Program yang pernah menjadi asa kini menyisakan ironi mendalam, khususnya di Satuan Permukiman (SP) 1 dan 2.
Pada awal tahun 2012, Kawasan transmigrasi Maidi dikenal sebagai lumbung pangan dan sentra buah naga terbaik di Maluku Utara. Tanahnya yang subur dan irigasi alami menjadikan kawasan ini primadona baru sektor pertanian.
Namun, kejayaan itu mulai memudar sekitar tahun 2019, ketika sistem drainase dan saluran air alami mulai tersumbat akibat pendangkalan sungai. Akibatnya, air hujan tidak lagi mengalir lancar ke laut, menyebabkan lahan-lahan pertanian perlahan berubah menjadi genangan luas.
Kondisi itu makin parah ketika banjir musiman menjadi peristiwa tahunan yang tak lagi surut sempurna. “Dulu di sini pusatnya buah naga, dari seluruh Maluku Utara orang cari ke sini. Sekarang lihat sendiri, mau tanam apa lagi selain kangkung?” ujar Husein, salah satu kepala keluarga yang masih bertahan di SP 1.
Genangan yang terus bertahan memaksa warga mencari cara bertahan hidup. Kini, warga memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk bertani dan menjadikan kangkung sebagai tanaman utama, karena paling mampu beradaptasi di lahan basah. Namun, tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi dan IPB University 2025 melihat potensi lain yang masih bisa dikembangkan. “Selain kangkung, tanaman seperti sawi, bayam, dan cabai berpeluang dikembangkan di lahan ini, tentu dengan sistem pengelolaan air yang lebih baik,” jelas salah satu anggota tim.
Namun, masalah di Maidi tidak berhenti pada persoalan pertanian. “Di tengah kepungan masalah” menggambarkan kondisi warga yang kini berhadapan dengan berbagai tekanan: genangan air yang tak kunjung surut, akses jalan rusak, teror buaya, dan menurunnya aktivitas ekonomi.
Sejak 2020, predator air seperti buaya sering terlihat di sekitar pemukiman akibat meluasnya genangan menuju habitat mereka. Ketakutan warga meningkat karena beberapa kali buaya terlihat di dekat rumah-rumah kosong yang ditinggalkan.
Derita mereka semakin lengkap dengan akses yang lumpuh. Infrastruktur jalan utama yang menghubungkan wilayah Oba Selatan menuju Oba rusak parah, mematikan potensi ekonomi yang tersisa. Meski begitu, semangat juang warga belum sepenuhnya padam.
Beberapa dari mereka, setiap hari nekat menempuh jalanan rusak untuk mengambil dagangan ke Koli di Kabupaten Oba demi menyambung hidup. Kondisi paling memprihatinkan terlihat di SP 2 Maidi. Dari total 100 Kepala Keluarga (KK) yang pertama kali merintis kehidupan di sini, kini hanya tersisa 2 KK.
Isolasi mereka diperparah oleh infrastruktur jalan di dalam kawasan SP 2 yang nyaris tidak bisa dilewati, membuat akses masuk dan keluar dari permukiman tersebut menjadi tantangan yang luar biasa sulit. Lengkap sudah ironi di Maidi. Fasilitas listrik telah terpasang, namun hanya menerangi rumah-rumah kosong dan kesunyian.
Dalam pemetaan yang dilakukan tim Ekspedisi Patriot, Maidi kini berada di titik kritis. Dari aspek sosial dan kependudukan, terjadi penurunan tajam jumlah penduduk akibat migrasi keluar. Dari sisi lingkungan, terjadi degradasi sistem tata air dan sedimentasi sungai.
Secara ekonomi, aktivitas jual beli hasil tani hampir berhenti total. Namun, masih tersisa potensi besar pada pemanfaatan lahan rawa produktif dan perikanan air tawar, jika ada intervensi teknologi tepat guna dan perbaikan akses infrastruktur.
Kisah Maidi menjadi cermin penting bagi perencanaan kawasan transmigrasi di masa depan. Tanpa kajian kelayakan lahan dan infrastruktur yang memadai, program yang dimaksudkan untuk menyejahterakan justru bisa menciptakan penderitaan baru.
Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Melalui Program Ekspedisi Patriot 2025, tim berupaya menjadi jembatan suara warga Maidi agar kondisi ini segera mendapat perhatian dan tindak lanjut nyata dari pihak terkait. Setelah bertahun-tahun tanpa solusi, laporan dan temuan di lapangan ini diharapkan dapat membuka jalan bagi upaya pemulihan dan revitalisasi kawasan secara berkelanjutan.