BOGOR, INFODESAKU – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, tahun 2026, tidak ingin berhenti sebagai ajang perlombaan atau sekadar persiapan menuju MTQ tingkat Kabupaten Bogor. Pemerintah Kecamatan Sukamakmur menjadikannya sebagai momentum berburu, memetakan, sekaligus membina bibit Qari dan Qariah potensial sejak usia dini.
MTQ yang mengusung tema “Memakmurkan Masjid dengan Al-Qur’an, Mewujudkan Kecamatan Sukamakmur yang Bermartabat” tersebut digelar di halaman Kantor Kecamatan Sukamakmur, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan dihadiri Forkopimcam Sukamakmur, Anggota DPRD Kabupaten Bogor H. Muhammad Ansori Setiawan, para kepala desa se-Kecamatan Sukamakmur, Ketua MUI Kecamatan Sukamakmur, KNPI, Karang Taruna, serta para peserta MTQ.
Plt. Camat Sukamakmur, Andri Rahman, mengatakan MTQ harus memiliki dampak yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, ukuran keberhasilan MTQ tidak semata-mata dilihat dari siapa yang menjadi juara, tetapi sejauh mana kegiatan tersebut mampu melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.
“Tujuan utama kita bukan hanya persiapan MTQ tingkat kabupaten. Yang paling utama bagaimana syiar Islam dan syiar Al-Qur’an betul-betul memberikan efek positif di wilayah Kecamatan Sukamakmur,” tegas Andri.
Ia menilai kemampuan baca tulis Al-Qur’an bagi anak-anak menjadi perhatian serius di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan gawai.
Bahkan, Andri mengaku lebih khawatir apabila anak-anak di Sukamakmur tidak mampu membaca dan menulis Al-Qur’an dibandingkan tidak menguasai bahasa asing.

“Kalau saya lebih khawatir anak-anak di Sukamakmur tidak bisa baca tulis Al-Qur’an dibanding tidak bisa bahasa Inggris,” ujarnya.
Menurut Andri, potensi Qari dan Qariah di Sukamakmur sebenarnya cukup besar. Namun, potensi tersebut harus ditemukan melalui proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika MTQ akan digelar.
Karena itu, pemerintah kecamatan bersama KUA, MUI, DMI, LPTQ, K3S dan pemerintah desa akan mendorong pola pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan pola tersebut, peserta MTQ tidak lagi muncul secara insidental saat perlombaan berlangsung. Anak-anak yang memiliki kemampuan dan potensi di bidang tilawah maupun cabang Al-Qur’an lainnya dapat dipetakan sejak dini untuk kemudian mendapatkan pembinaan.
“Pembinaan jangan hanya dilakukan menjelang MTQ. Kita harus mencari dan memetakan potensi anak-anak sejak dini, kemudian dibina secara rutin,” katanya.
Andri menegaskan, sinergi lintas lembaga menjadi kunci. Pemerintah kecamatan tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun ekosistem pembinaan Al-Qur’an.
Selain melalui MTQ, Pemcam Sukamakmur juga berencana menghidupkan kembali gerakan Maghrib Mengaji.
Andri mengajak orang tua dan masyarakat menjadikan waktu antara Maghrib hingga menjelang Isya sebagai waktu khusus bagi anak-anak untuk belajar dan membaca Al-Qur’an.
Pada waktu tersebut, penggunaan telepon seluler, laptop, dan perangkat digital lainnya diharapkan dapat dihentikan sementara agar anak-anak kembali berinteraksi dengan Al-Qur’an.
“Mulai Maghrib sampai Isya, kita upayakan anak-anak kembali mengaji. Handphone, laptop, gadget dan yang lainnya diberhentikan sementara,” katanya.
Menurut Andri, gerakan Maghrib Mengaji bukan program baru. Gerakan serupa sebelumnya pernah dijalankan di Kabupaten Bogor dan dinilai perlu kembali diperkuat di tingkat kecamatan.
Untuk mendukung pelaksanaannya, pemerintah kecamatan berencana membuat surat imbauan bersama yang melibatkan Kecamatan, KUA, MUI, DMI dan lembaga keagamaan lainnya.
Upaya membangun kecintaan generasi muda terhadap seni dan nilai-nilai Islam juga dilakukan melalui Festival Seni Islami yang digelar sehari sebelumnya.
Kegiatan yang awalnya dirancang sebagai Festival Marawis tersebut kemudian diperluas menjadi Festival Seni Islami karena peserta tidak hanya menampilkan marawis, tetapi juga hadroh dan qasidah.
Meski baru diikuti lima peserta, Andri menilai kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk menyediakan ruang kreativitas bagi anak-anak sekaligus menggali potensi seni Islami di tengah masyarakat.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan melibatkan lebih banyak peserta dari seluruh desa di Kecamatan Sukamakmur.
Andri juga mengajak seluruh kepala desa untuk mengambil peran lebih aktif dalam menggali dan mengembangkan potensi generasi muda di wilayah masing-masing.
Menurutnya, kepala desa memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat serta memiliki jaringan hingga tingkat lingkungan.
“Ketika semua potensi ada, mari bersama-sama berkolaborasi dan bersinergi meningkatkan seluruh potensi yang ada,” ajaknya.
Dengan kolaborasi pemerintah kecamatan, pemerintah desa, KUA, MUI, DMI, LPTQ, lembaga pendidikan dan masyarakat, MTQ diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya ekosistem pembinaan Al-Qur’an yang berjalan secara berkelanjutan di Kecamatan Sukamakmur.
Bukan sekadar melahirkan juara MTQ, tetapi mencetak generasi yang mampu membaca, memahami, mencintai, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Laporan : EPF