LAMSEL, INFODESAKU – Dampak abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan masyarakat pesisir Kabupaten Lampung Selatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung Selatan mencatat 337 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam dua hari terakhir.
Selain kasus ISPA, Dinkes juga mencatat 20 kasus gangguan mata dan 16 kasus iritasi kulit pada masyarakat di wilayah terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Devi Arminanto, S.K.M., M.M., mengatakan angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kondisi normal.
“Biasanya per hari itu hanya sekitar 25 kasus ISPA. Sekarang meningkat menjadi 337 kasus. Kemudian penyakit mata ada 20 kasus dan iritasi kulit ada 16 kasus,” ujar Devi saat diwawancarai awak media di sela peninjauan persiapan penanganan bencana erupsi Gunung Anak Krakatau bersama Bupati Lampung Selatan Egi di Kantor BPBD Lampung Selatan, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, keluhan kesehatan paling banyak ditemukan di wilayah yang terpapar abu vulkanik, terutama kawasan pesisir Kecamatan Rajabasa.
Meski terjadi lonjakan kasus, Devi memastikan kondisi kesehatan masyarakat sejauh ini masih relatif terkendali. Sebagian besar keluhan yang ditangani juga masih tergolong ringan.
“Alhamdulillah masih sifatnya ringan. Sampai sekarang tidak ada satu pun yang dirujuk ke rumah sakit. Artinya secara keseluruhan masih kondusif, aman dan terkendali,” jelasnya.
Posko Canti Disiapkan, Antisipasi Warga Sebesi
Untuk mengantisipasi peningkatan jumlah warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Dinkes Lampung Selatan telah menyiapkan posko kesehatan utama di Desa Canti.
Posko tersebut dinilai strategis karena berada di kawasan pesisir dan dapat menjadi titik pelayanan bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik.
Posko Canti juga disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya warga dari Pulau Sebesi yang membutuhkan penanganan kesehatan.
“Kalau warga dari Pulau Sebesi banyak yang mengalami keluhan penyakit, mereka akan langsung kita arahkan ke Posko Canti untuk mendapatkan penanganan,” kata Devi.
Selain posko kesehatan, posko koordinasi tingkat kabupaten juga disiapkan di Kantor BPBD Lampung Selatan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi perkembangan situasi erupsi.
750 Ribu Masker Disiagakan
Tak ingin kecolongan apabila paparan abu vulkanik semakin meluas, Dinkes Lampung Selatan juga memperkuat ketersediaan alat pelindung pernapasan bagi masyarakat.
Dalam dua hari terakhir, sekitar 127 ribu masker telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
“Kita masih memiliki stok ke depan sekitar 750 ribu masker. Insyaallah masyarakat Lampung Selatan yang terdampak masih bisa kita layani,” ungkap Devi.
Dinkes juga terus berupaya menambah stok masker dengan mengajukan dukungan kepada Kementerian Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Warga Diminta Tak Sepelekan Abu Vulkanik
Devi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan abu vulkanik. Partikel abu yang terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan perlindungan diri, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.
“Pertama, gunakan masker apabila berada di luar. Kedua, kurangi aktivitas di luar lapangan. Ketiga, makanan dan minuman harus dijaga, terutama sumur harus ditutup agar tidak tercemar debu vulkanik,” tegasnya.
Selain masker, ketersediaan obat-obatan untuk menangani keluhan kesehatan masyarakat juga dipastikan masih aman.
Namun sebagai langkah antisipasi, Dinkes Lampung Selatan telah diminta Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengusulkan penambahan stok obat, khususnya untuk menangani ISPA, gangguan mata, serta alergi atau iritasi kulit.
Debu Vulkanik Dibersihkan dari Fasilitas Publik
Penanganan dampak erupsi juga dilakukan secara lintas sektor. Dinkes Lampung Selatan berkolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) melakukan pembersihan debu vulkanik di sejumlah fasilitas dan ruang publik.
Pembersihan dilakukan secara rutin di berbagai lokasi pelayanan masyarakat, termasuk rumah sakit, perkantoran hingga jalan raya.
Khusus jalan raya, pembersihan dilakukan untuk mengurangi timbunan debu yang berpotensi kembali beterbangan akibat aktivitas kendaraan dan kemudian terhirup masyarakat.
Dengan munculnya 337 kasus ISPA dalam dua hari, pemerintah daerah kini memperkuat kesiapsiagaan melalui posko kesehatan, distribusi masker, penambahan obat-obatan serta pembersihan abu vulkanik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melindungi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir, dari dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Laporan : BR