Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) merupakan program strategis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengintegrasikan seluruh proses kegiatan perikanan dari hulu hingga hilir di desa pesisir. Tujuan utama program KNMP adalah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal. Program ini diharapkan mampu mendorong penguatan kelembagaan nelayan, peningkatan kapasitas sarana dan prasarana perikanan, serta pengembangan pengolahan hasil perikanan agar memiliki nilai tambah dan daya saing.
Salah satu desa pengusul KNMP adalah Desa Pantai Harapan yang terletak di Kecamatan Wulandoni Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak Desa Pantai Harapan ke Kota Lewoleba mencapai sekitar 49 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2–4 jam. Desa Pantai harapan memiliki luas wilayah administrasi sebesar 9,43 km2. Kondisi akses jalan yang cukup sulit karena sebagian jalan beraspal, sedangkan sebagian lainnya masih berupa jalan tanah dan berbatu. Desa Pantai Harapan memiliki kondisi topografi yang bervariasi dengan kemiringan lahan dataran rendah di wilayah pesisir serta ketinggian lahan berbukit di bagian lainnya.

Hasil tangkapan nelayan Desa Pantai Harapan
Mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Pantai Harapan sebagai nelayan sekitar 80% dari total penduduk. Desa ini termasuk kawasan pesisir karena berbatasan langsung di bagian selatan dengan Laut Sawu. Sebagian besar kapal nelayan masih berukuran di bawah 5 GT dengan penggunaan alat penangkapan yang masih terbatas. Jenis alat penangkapan yang dimiliki oleh masyarakat meliputi rumpon, pursesine, pukat monofilamen, pancing, perahu motor (pukat hanyut) dan ketinting. Hasil tangkapan ikan dijual langsung kepada konsumen dan pedagang ikan sekitar 85%, sedangkan sisa 15% dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri. Jenis ikan yang paling banyak ditangkap adalah ikan layang dengan produksi mencapai 5–10 ton per bulan. Selain itu, terdapat hasil tangkapan lainnya seperti ikan kembung, tongkol dan tuna.
Namun, di balik potensi sumber daya perikanan yang besar, masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat nelayan. Terbatasnya infrastruktur perikanan seperti belum tersedianya shelter pendaratan ikan, menyebabkan nelayan mendaratkan hasil tangkapan langsung di tepi pantai. Sebagian hasil tangkapan juga dijual melalui sistem transhipment kepada pedagang pengumpul. Tidak tersedianya cold storage maupun mobil berpendingin menyebabkan kualitas ikan mudah menurun dalam beberapa jam. Nelayan hanya mengandalkan cool box atau sterofoam untuk mempertahankan kesegaran ikan dengan kebutuhan es masih dipenuhi dari rumah tangga.
Nelayan juga menghadapi kendala dalam pemenuhan bahan bakar karena tidak tersedianya SPBU maupun SPBUN terdekat dari desa, sehingga hanya mengandalkan pasokan dari pedagang eceran setempat. Sementara itu, pasokan bahan bakar sering kali tidak stabil karena pembatasan distribusi dari SPBU. Apabila harus membeli langsung ke SPBU, nelayan memerlukan waktu tempuh yang lama serta menanggung biaya transportasi yang tinggi. Sementara, pada waktu-waktu tertentu hasil tangkapan tidak menentu terutama saat musim sepi ikan yang berdampak pada penurunan pendapatan nelayan.

Kapal dan alat tangkapan nelayan di Desa Pantai Harapan
Pengolahan produk perikanan di desa ini masih berskala rumah tangga (home industry), yang umumnya produk pengeringan ikan. Skala produksi pengolahan per hari masih terbatas, yaitu sekitar 10 kemasan ikan kering. Usaha ini masih menghadapi kendala terutama branding termasuk kemasan dan label produk, sehingga daya saing di pasar masih rendah. Selain itu, minimnya adopsi teknologi pengolahan dan pemanfaatan digitalisasi pemasaran juga membatasi pengembangan skala produksi. Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan pengolahan ini masih tergolong usaha mikro dengan nilai tambah yang relatif rendah. Adapun potensi wisata di desa ini belum dikelola secara optimal, padahal terdapat beberapa lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata, seperti Lewo Lolo/Lewo Nuba. Kawasan tersebut memiliki keindahan alam yang dapat menarik kunjungan wisatawan.
Permasalahan utama dalam upaya pengembangan sektor perikanan dan potensi wisata di Desa Pantai Harapan adalah keterbatasan anggaran. Keterbatasan alokasi pendanaan menyebabkan pembangunan infrastruktur pendukung perikanan seperti fasilitas pendaratan ikan, penyimpanan berpendingin, serta sarana distribusi belum tersedia. Kondisi ini juga berdampak pada terbatasnya dukungan terhadap penguatan kelembagaan nelayan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan usaha pengolahan dan pariwisata. Oleh karena itu, di balik potensi yang besar diperlukan dukungan pendanaan dan pendampingan yang berkelanjutan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun melalui kemitraan dengan pihak swasta agar potensi Desa Pantai Harapan dapat dikembangkan secara maksimal. Pembangunan infrastruktur bukan hanya sekedar pembangunan fisik, tetapi juga harapan baru bagi masyarakat pesisir untuk hidup lebih sejahtera.
Kontributor: Mutiara Ria Despita Maharani