SLEMAN, INFODESAKU – Tim Dosen Sekolah Vokasi IPB University mendorong penguatan pariwisata berkelanjutan di Desa Wisata Pentingsari, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui pelatihan pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan produk pangan bernilai ekonomi. Program bertajuk Waste-to-Food Integrated System ini menjadi upaya nyata mengembangkan konsep Zero Waste Tourism atau pariwisata minim sampah sekaligus membuka peluang inovasi eduwisata bagi masyarakat setempat.

Kegiatan yang digelar pada Minggu (11/10/2026) tersebut melibatkan 25 perwakilan pengelola desa wisata, pengelola homestay, lembaga pengelola sampah, dan masyarakat. Pelatihan ini merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam), sebuah inisiatif pengabdian masyarakat IPB University untuk menghadirkan solusi aplikatif sesuai kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
Kehadiran tim dosen yang turut menginap di desa untuk merasakan langsung suasana dan kearifan lokal Pentingsari disambut hangat oleh warga. Suasana kekeluargaan pun terasa sejak awal kegiatan.
Ketua tim, Rici Tri Harpin Pranata, Dosen Komunikasi Digital Media Sekolah Vokasi IPB University, membuka pelatihan dengan sapaan jenaka yang mencairkan suasana.
“Sebenarnya kehadiran kami di sini tidak penting, yang penting apa? Pentingsari. Pentingsari?! Pentiiing banget!” kelakarnya yang disambut tawa para peserta.
Dalam sambutannya, Rici menegaskan bahwa kehadiran IPB University bukan untuk menggurui masyarakat, melainkan berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari maupun pengelolaan desa wisata.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan tiga materi utama berbasis praktik. Materi pertama berupa pemanfaatan sampah dedaunan kering menjadi pupuk menggunakan wadah kawat komposter, dipandu Tri Budiarto, Dosen Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian Sekolah Vokasi IPB University.
Materi kedua membahas pengelolaan limbah organik rumah tangga menggunakan Bio Composter Bag portabel yang didemonstrasikan langsung oleh Rici Tri Harpin Pranata.
Sementara itu, materi ketiga dipandu Firman Muhammad Basar, Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University. Dalam sesi ini, para peserta, khususnya ibu-ibu, diajak mengolah sisa kulit buah yang selama ini kerap dibuang menjadi manisan yang berpotensi memiliki nilai jual.
Pelatihan tersebut memperlihatkan bahwa sampah organik tidak selalu berakhir sebagai limbah. Dengan teknik pengolahan yang tepat, material yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi produk berguna, mulai dari pupuk hingga olahan pangan yang berpeluang menambah nilai ekonomi masyarakat.
Serahkan Modul Berisi 27 Metode Pengolahan Sampah
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Tim Dosen Sekolah Vokasi IPB University juga menyerahkan modul berjudul Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pupuk dan Produk Pangan Berkelanjutan.
Modul yang dirancang khusus untuk kawasan desa wisata tersebut memuat 27 metode pengolahan limbah yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan diterapkan oleh masyarakat. Panduan ini diharapkan menjadi referensi bagi pengelola Desa Wisata Pentingsari dalam memperluas praktik pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan atraksi wisata edukatif.
Sejumlah metode yang dibahas di dalamnya meliputi pembuatan eco-enzyme untuk pembersih serbaguna, cuka alami, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai sumber pakan ternak berprotein tinggi, pupuk organik cair (POC), silase pakan ternak melalui proses fermentasi, hingga budidaya jamur menggunakan serbuk kayu.
Melalui panduan tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan pendekatan terpadu yang menghubungkan pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya lokal, ketahanan pangan, dan peluang usaha. Beragam teknik pengolahan itu juga berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata edukasi di Pentingsari.
Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Ciptaningtyas, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi dan materi pelatihan yang diberikan oleh tim dosen IPB University.
“Pentingsari sudah menjadi desa wisata yang berkelanjutan, di mana aspek kelestarian lingkungan itu sangat penting. Program dari IPB ini sangat baik untuk kami, dan ilmu yang diajarkan hari ini ternyata tidak kaleng-kaleng, sungguh luar biasa mendalam,” ungkap Ciptaningtyas di hadapan peserta.
Ia juga mengapresiasi kedekatan tim dosen dengan masyarakat yang dinilai mampu membangun suasana kebersamaan selama kegiatan berlangsung.
“Sesuai dengan jargon kebanggaan kami, ‘Datang sebagai wisatawan, pulang sebagai keluarga.’ Kami berharap Pak Rici, Pak Tri, Pak Firman, dan tim IPB sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Pentingsari. Kami juga berharap ilmu yang diajarkan kepada 25 orang perwakilan hari ini bisa segera diduplikasi untuk seluruh masyarakat Pentingsari,” tambahnya.
Ke depan, fasilitas pengolahan sampah dan berbagai praktik daur ulang yang diperkenalkan melalui program Dospulkam direncanakan untuk diintegrasikan ke dalam paket eduwisata Desa Wisata Pentingsari.
Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam dan budaya lokal, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar mengenai pengelolaan lingkungan secara langsung.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat identitas Pentingsari sebagai destinasi wisata berkelanjutan, sekaligus membuktikan bahwa pelestarian lingkungan, pengembangan pariwisata, dan penciptaan nilai ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. (Tim)